Marhaban Ya Ramadhan 1447 H / 2026

Media Network
Netizen

Arch Kafe & Ajaran Pikiran

Minggu malam di Pantai Batu Pinagut biasanya diisi obrolan ringan & kopi yg diminum tanpa beban. Namun malam itu, ARCH Kafe menghadirkan suasana berbeda. Sunyi yg penuh konsentrasi. Tenang yg menuntut pikiran bekerja.

Di sinilah Lomba Catur memeriahkan HUT ARCH Kafe digelar di Pantai Batu Pinagut Boltara, Minggu (25/1/2026).

Tak ada panggung besar. Tak ada hiruk-pikuk perayaan. Hanya papan catur, meja kayu, & orang2 yg duduk berhadap-hadapan dgn pikirannya sendiri.

Bunyi bidak yg digeser terdengar jelas. Setiap langkah terasa berat karena satu keputusan bisa mengubah segalanya. Wajah2 tegang tampak di hampir semua meja. Ada yg memijat kening. Ada yg menatap papan lama, seolah mencari jawaban hidup di antara 64 kotak hitam-putih.

Catur memang tak ramah pada mereka yg terburu-buru. Ia menghukum kecerobohan & memberi hadiah pada kesabaran.

Dan mungkin karena itu, permainan ini terasa relevan di tengah zaman yg semakin gaduh, serba reaktif, & miskin perenungan.

Yg menarik, lomba ini mempertemukan banyak lapisan usia. Anak2 bisa duduk sejajar dgn pemain yg rambutnya mulai memutih. Tak ada keistimewaan. Tak ada privilese. Di papan catur, semua setara. Yg membedakan hanyalah kejernihan berpikir & kemampuan menahan ego.

ARCH Kafe malam itu berubah fungsi. Ia bukan sekadar tempat nongkrong atau ruang konsumsi, melainkan ruang sosial yg sehat. Ruang di mana orang-orang dipaksa melambat, berpikir, & menerima konsekuensi dari setiap keputusan yg diambil.

Bila penonton menyaksikan pertandingan, mereka tanpa banyak suara. Tak ada sorakan yg terlalu berlebihan. Tak ada provokasi. Hanya luapan kegembiraan yg terkendali.

Menang & kalah terasa biasa. Yg tersisa justru rasa puas karena telah melalui proses berpikir yg utuh.

Perayaan HUT ARCH Kafe ini terasa jujur. Tak dibungkus gemerlap. Tak dibuat sensasional. Ia tumbuh dari komunitas & kembali pada komunitas. Menjadikan kafe sebagai ruang bertemunya manusia, gagasan, & kesadaran.

Di tengah dunia yg semakin ramai oleh pendapat tapi miskin pemikiran, ARCH Kafe memilih cara sederhana untuk merayakan usianya: menghadirkan papan catur & membiarkan orang-orang belajar kembali tentang sabar, strategi & berpikir.

Di saat banyak orang merasa pintar karena cepat bicara, papan catur di ARCH Kafe justru membuktikan hal sebaliknya: Yg bertahan bukan mereka yg paling keras, tapi mereka yg paling tenang.

Dan malam itu, catur tidak mengajarkan cara menang. Ia menampar kita dgn pelajaran sederhana: berpikir itu melelahkan, & karena itulah tidak semua orang mau melakukannya.

Andry Adriandzah

Redaksi

Menulis bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan untuk menyampaikan kebenaran dengan jernih dan tajam.

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button