10 Penalti Paling Menyakitkan dalam Sejarah Sepak Bola
Dari Baggio hingga Final Piala Dunia, Luka dari Titik Putih Tak Pernah Benar-Benar Sembuh

Adu penalti adalah ujian mental paling brutal dalam sepak bola. Dalam hitungan detik, seorang pemain bisa berubah menjadi pahlawan atau menjadi simbol kegagalan yang dikenang seumur hidup. Satu tendangan meleset mampu menghantui karier, bahkan membentuk narasi sejarah.
Dari final Piala Dunia hingga laga puncak turnamen kontinental, sepak bola mencatat banyak momen tragis dari titik putih. Berikut daftar 10 kegagalan penalti paling menyakitkan sepanjang sejarah, berdasarkan dampak, konteks, dan luka emosional yang ditinggalkan.
1. Roberto Baggio – Final Piala Dunia 1994
Tak ada panggung yang lebih besar dari final Piala Dunia. Saat Roberto Baggio melangkah maju di Pasadena, Italia menggantungkan segalanya pada satu tendangan.
Bola melambung. Brasil juara.
Momen itu langsung menjadi ikon tragedi sepak bola dunia. Hingga kini, kegagalan Baggio masih dianggap sebagai penalti paling menyakitkan sepanjang masa.
2. Brahim Diaz – Final AFCON 2025
Final. Bermain di kandang. Negara menunggu 50 tahun untuk trofi.
Brahim Diaz punya segalanya-hingga penalti panenka-nya gagal total.
Eksekusi lemah, momen runtuh. Media sosial meledak. Senegal akhirnya menang di babak tambahan. Satu keputusan buruk menghapus turnamen gemilang.
3. Gareth Southgate – Semifinal Euro 1996
Euro 96 adalah pesta sepak bola Inggris. Wembley bergemuruh.
Namun, penalti sudden death Gareth Southgate menjadi awal trauma nasional.
Kegagalan itu memicu rentetan kekalahan Inggris di adu penalti turnamen besar selama lebih dari dua dekade. Ironisnya, Southgate kelak menebusnya sebagai pelatih.
4. Stuart Pearce – Semifinal Piala Dunia 1990
Gagal di Turin. Beban itu dipikul Stuart Pearce selama enam tahun.
Saat ia akhirnya mencetak penalti di Euro 96, ekspresinya menjelaskan segalanya.
Bagi Pearce, keberanian untuk kembali maju jauh lebih penting daripada hasil.
5. John Terry – Final Liga Champions 2008
Hujan Moskow. Chelsea di ambang sejarah.
John Terry terpeleset.
Satu slip menghilangkan trofi Liga Champions. Terry mengakui kegagalan itu terus menghantuinya, hingga akhirnya terobati saat Chelsea juara pada 2012.
6. David Trezeguet – Final Piala Dunia 2006
Banyak yang lupa. Tapi Prancis tak akan.
Trezeguet gagal. Bola menghantam mistar.
Namun tragedinya tenggelam oleh insiden Zidane dan Materazzi. Memori kolektif menyelamatkannya dari luka yang lebih dalam.
7. Jadon Sancho – Final Euro 2020
Bagi Inggris, ini bukan sekadar penalti gagal.
Ini titik balik karier.
Sancho gagal. Inggris kalah. Tekanan publik datang bertubi-tubi.
Berbeda dengan Rashford dan Saka, Sancho tak pernah benar-benar pulih di level internasional.
8. Mohamed Salah – Final AFCON 2021
Salah tak ingin mengulang kesalahan masa lalu.
Namun sorot laser hijau mengacaukan fokus.
Mesir kalah. Trofi kembali lepas dari genggaman. Salah kembali harus menelan kekecewaan besar bersama negaranya.
9. Kingsley Coman – Final Piala Dunia 2022
Masuk sebagai algojo. Gagal.
Coman tak pernah merasakan Piala Dunia 2018. Kesempatan emas itu berlalu begitu saja di Qatar.
10. Aurélien Tchouaméni – Final Piala Dunia 2022
Masih muda. Tekanan luar biasa.
Tchouaméni gagal mengeksekusi penalti terakhir.
Prancis kalah. Namun berbeda dari Coman, masa depan masih terbuka. Luka ini mungkin belum berakhir.
Adu Penalti: Benar atau Salah, Selalu Kejam
Daftar ini menegaskan satu hal: adu penalti bukan soal teknik semata. Mental, momen, dan beban sejarah ikut menentukan.
Sepak bola boleh terus bergerak maju, tetapi luka dari titik putih tak pernah benar-benar hilang.
- Mohamed Salah: Seri Aksi Kilat dan Ambisi Gemilang di AFCON 2023
- Drama di Civitas Metropolitano, Atletico Madrid Usir Real Madrid dari Liga Champions!
- Hasil Piala FA: Manchester United Kalah Adu Penalti dari Fulham



