Sejarah Masuknya Islam di Bolaang Mongondow Raya: Dari Pesisir ke Pedalaman

Jejak Ulama dan Penguasa Lokal Membentuk Identitas Keagamaan Totabuan

Sejarah Islam Bolaang Mongondow Raya mencatat penyebaran agama Islam berlangsung jauh sebelum era kolonial modern. Catatan para pejabat kerajaan menyebut dakwah telah hadir sejak abad ke-12 dan berkembang bertahap dari pesisir menuju pedalaman Sulawesi Utara.

Islam tidak masuk melalui penaklukan, melainkan lewat jaringan ulama, pelaut, serta hubungan politik antarkerajaan.

Awal Kedatangan Ulama ke Sulawesi

Dokumen lokal dan arsip asing menyebut dakwah dibawa oleh ulama keturunan Timur Tengah yang datang melalui jalur Aceh.

Fase Awal Penyebaran

Penyebaran kemudian meluas melalui jalur perdagangan laut hingga wilayah kepulauan sekitar.

Masuk ke Lingkungan Istana Bolaang

Islam awalnya berkembang di masyarakat pesisir sebelum diterima kalangan bangsawan.

Peran Penguasa Lokal

Pada masa Punu Tadohe, ajaran Islam mulai dikenal di istana meski kepercayaan lokal masih kuat.
Perubahan besar terjadi ketika Loloda Mokoagow memeluk Islam dan mengubah gelar pemimpin dari Punu menjadi Datu.

Peristiwa ini menandai fase penting dalam sejarah Islam Bolaang Mongondow Raya karena agama resmi mulai diakui dalam pemerintahan.

Jaringan Dakwah Meluas Hingga Filipina

Hubungan maritim mempercepat penyebaran Islam.
Wilayah Sulawesi dan kepulauan Filipina memiliki interaksi politik dan perdagangan yang erat.

Islam berkembang melalui:

Jaringan ini menjadikan wilayah Bolaang sebagai bagian dari peradaban maritim Islam Nusantara.

Tantangan Kolonial dan Misi Eropa

Masuknya kekuatan Eropa mengubah dinamika keagamaan.

Masa Konflik Kepercayaan

Meski menghadapi tekanan, Islam tetap bertahan dan akhirnya menjadi agama mayoritas di Bolaang Mongondow Raya.

Kesimpulan

Sejarah Islam Bolaang Mongondow Raya menunjukkan proses panjang: dimulai dari dakwah ulama, diterima masyarakat pesisir, lalu dilegitimasi penguasa lokal. Interaksi maritim dan politik memperkuat penyebaran hingga menjadi identitas utama wilayah Totabuan saat ini.

Via
Tinta
Sumber
Sumitro Tegela Zed
Exit mobile version