Sukseskan Pilkada Serentak, Rabu 27 November 2024

Media Network
Ekonomi

Langkah Pemberani BI: Suku Bunga Naik di Tengah Pasang Rupiah

Tinta.news | Dalam peristiwa yang tak terduga, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga pada hari Kamis untuk menghentikan laju penurunan nilai tukar rupiah yang tengah dirundung ketatnya kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya risiko geopolitik. Para ekonom memandang kemungkinan kenaikan lebih lanjut jika pelemahan mata uang ini terus berlanjut.

Bank sentral menggenjot suku bunga acuan repurchase reverse 7 hari sebesar 25 poin basis menjadi 6,00 persen, yang merupakan kenaikan keduanya tahun ini dan yang ketujuh sejak awal perjalanan kerasnya kebijakan moneter pada tahun 2022. Dua suku bunga utamanya juga terdongkrak.

Saat ini, suku bunga acuannya berada pada level tertingginya sejak Juni 2019.

Seluruh ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya telah mengantisipasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tanpa perubahan.

Keputusan ini diambil ketika rupiah kembali merasakan tekanan, mencapai level terendahnya sejak tahun 2020 pada hari Kamis sebagai respons terhadap para investor yang cenderung lebih berhati-hati dengan memilih aset tempat berlindung di tengah ketatnya kebijakan moneter di negara-negara maju dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mata uang ini sedikit memulihkan sebagian kerugiannya setelah kenaikan suku bunga.

“Kenaikan ini dilakukan untuk memperkuat langkah-langkah stabilisasi rupiah menghadapi dampak ketidakpastian global yang meningkat, serta sebagai langkah antisipatif dan berorientasi ke depan untuk meredakan dampaknya terhadap inflasi melalui barang-barang impor,” tegas Gubernur Perry Warjiyo.

Warjiyo mencatat bahwa sebulan sebelumnya BI telah membahas rencana pelonggaran moneter yang akan datang. Namun, BI mengubah jalurnya karena dinamika global yang “berubah dengan sangat cepat dan sangat sulit diprediksi,” yang mendorong kenaikan harga energi dan pangan serta meredakan proyeksi pertumbuhan global, ujar sang Gubernur.

Gareth Leather dari Capital Economics mengingatkan bahwa pelemahan lebih lanjut pada rupiah dapat memicu kenaikan suku bunga lebih lanjut, tetapi dia juga berpendapat bahwa “ada kemungkinan besar ini hanya akan menjadi satu kali saja” jika imbal hasil obligasi AS turun dan tekanan pada rupiah mereda.

Ekonom DBS, Radhika Rao, menyatakan pendapat yang serupa.

“Dalam langkah yang mengingatkan pada posisi tegasnya pada tahun 2018, pihak berwenang kemungkinan akan tetap membuka peluang untuk menyesuaikan suku bunga lebih lanjut jika mata uang tetap terbebani oleh ketidakpastian global, meskipun risiko inflasi domestik terkendali,” katanya.

Kendati telah mengalami depresiasi dalam periode belakangan, rupiah tetap menjadi salah satu mata uang Asia yang menonjol, sebagian didukung oleh surplus perdagangan Indonesia.

Ketakutan terhadap utang valuta asing besar Indonesia telah membuat para analis menyebut bahwa kelemahan rupiah ini telah membuat BI enggan untuk menurunkan suku bunga, meskipun inflasi turun ke level terendah dalam 19 bulan pada bulan September, berada di dekat batas rendah target BI sebesar 2 hingga 4 persen untuk tahun 2023.

Sejalan dengan kenaikan suku bunga pada hari Kamis, Warjiyo mengumumkan bahwa BI akan menerbitkan surat berharga berdenominasi mata uang asing, yang disebut SVBI dan SUVBI, dengan tujuan menarik arus modal. Sebulan sebelumnya, BI telah memulai penjualan surat berharga berdenominasi rupiah yang dapat diperdagangkan (SRBI) dengan tujuan yang sama.

Meskipun telah menaikkan suku bunga, BI akan tetap mendukung pertumbuhan kredit domestik dengan melemahkan persyaratan likuiditas bagi bank dan memperpanjang kebijakan tanpa uang muka untuk hipotek dan pinjaman mobil hingga akhir tahun 2024, kata Warjiyo, dengan menekankan bahwa kebijakan makroprudensial BI “pro-pertumbuhan.”

“Bagi saya, sedikit mengherankan bahwa mereka terus melonggarkan kebijakan makroprudensial,” ujar Fakhrul Fulvian, ekonom utama Trimegah Securities, menambahkan bahwa hal ini akan “meminimalkan” efek kenaikan suku bunga.

Meskipun mengambil keputusan mengenai suku bunga, BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan untuk ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini pada kisaran 4,5 hingga 5,3 persen pada tahun 2023.

Sejak Agustus 2022, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak total 250 poin basis. (red)

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button