Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

Media Network
BUZZ

Viral! Dugaan Penghinaan Habib Idrus oleh Gus Fuad Plered, Wakil Ketua MPR Desak Permintaan Maaf dalam 24 Jam

Ucapan Kontroversial di Video Picu Reaksi Keras Masyarakat dan Tokoh Nasional

Sebuah video yang menampilkan dugaan penghinaan terhadap ulama kharismatik Almarhum Habib Idrus Bin Salim Al Jufrie viral di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, sosok yang disebut sebagai Gus Fuad Plered atau K.H. Muhammad Fuad Riyadi, diduga menyebut Habib Idrus dengan istilah yang sangat tidak pantas, termasuk julukan “monyet”.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman luas dari masyarakat, khususnya umat Muslim dan para pengagum perjuangan dakwah Habib Idrus di tanah air.

Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Minta Klarifikasi dan Permintaan Maaf Terbuka

Menanggapi viralnya video tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, mengeluarkan pernyataan tegas. Ia menyesalkan ucapan yang berpotensi menghina ulama nasional, apalagi tokoh seperti Habib Idrus, yang dikenal luas sebagai pejuang dakwah dan pendiri lembaga pendidikan Islam di Sulawesi Tengah.

“Sebagai pimpinan MPR, saya sangat menyesalkan adanya pernyataan yang merendahkan ulama. Tidak boleh ada siapapun yang menghina ulama, apalagi yang telah berjasa besar bagi bangsa ini,” tegas Akbar.

Advertisement

Ia mendesak agar Gus Fuad segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di media dalam waktu 1×24 jam. Jika tidak, maka tindakan hukum harus segera dilakukan.

Polisi Diminta Bertindak Tegas, Dugaan Pelanggaran Hukum Harus Diusut

Akbar juga meminta pihak Kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus ini, karena sudah masuk dalam kategori dugaan penghinaan tokoh agama yang bisa menimbulkan keresahan sosial.

Advertisement

“Kami meminta Kepolisian untuk menindaklanjuti dan mengusut kasus ini secara tuntas,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya penegakan hukum yang adil terhadap siapa pun yang dianggap menyulut ketegangan sosial, apalagi di tengah momen penting seperti bulan Ramadan.

Advertisement

Tokoh Agama Harus Bijak Bermedia Sosial, Jangan Timbulkan Kegaduhan

Dalam pernyataannya, Akbar juga mengingatkan bahwa tokoh agama memiliki tanggung jawab moral lebih besar dalam menyampaikan pendapat, khususnya di ruang publik atau media sosial. Ucapan yang tidak bijak bisa berdampak besar pada ketenangan umat.

“Kita semua punya tanggung jawab menjaga keharmonisan bangsa, apalagi saat ini kita sedang menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Jangan sampai ada pernyataan yang justru memicu kegaduhan,” katanya.

Advertisement

Jaga Ramadan Tetap Damai, Hindari Ujaran Provokatif

Menutup pernyataannya, Wakil Ketua MPR mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, tidak terpancing, dan fokus menjaga suasana bulan suci Ramadan tetap kondusif.

“Jangan sampai kegaduhan yang ditimbulkan oleh satu orang merusak keharmonisan bangsa. Mari kita jaga Ramadan tetap sejuk dan Indonesia tetap damai,” pungkasnya.

Advertisement

Advertisement
Advertisement

Nanang Kasim

"Jurnalis waktu.news yang aktif meliput berita daerah Sulawesi Utara, politik, dan hukum. jurnalisme sejak 2018. Anggota PWI."

Berita terkait

Back to top button